Tampilkan postingan dengan label WAWASAN AGAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WAWASAN AGAMA. Tampilkan semua postingan

14 Okt 2013

Fadhilah Puasa Arafah



Fadhilah Puasa Arafah
Puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni tanggal 9 bulan Dzulhijah pada kalender Islam Qamariyah/Hijriyah. Puasa ini sangat dianjurkan bagi kaum Muslimin yang tidak menjalankan ibadah haji.
Kesunnahan puasa Arafah tidak didasarkan adanya wukuf di Arafah oleh jamaah haji, tetapi karena datangnya hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Maka bisa jadi hari Arafah di Indonesia tidak sama dengan di Saudi Arabia yang hanya berlainan waktu 4-5 jam. Ini tentu berbeda dengan kelompok umat Islam yang menghendaki adanya ‘rukyat global’, atau kelompok yang ingin mendirikan khilafah islamiyah, dimana penanggalan Islam disamaratakan seluruh dunia, dan Saudi Arabia menjadi acuan utamanya.
Keinginan menyamaratakan penanggalan Islam itu sangat bagus dalam rangka menyatukan hari raya umat Islam, namun menurut ahli falak, keinginan ini tidak sesuai dengan kehendak alam atau prinsip-prinsip keilmuan. Rukyatul hilal atau observasi bulan sabit yang dilakukan untuk menentukan awal bulan Qamariyah atau Hijriyah berlaku secara nasional, yakni rukyat yang diselenggarakan di dalam negeri masing-masing dan berlaku satu wilayah hukum. Ini juga berdasarkan petunjuk Nabi Muhammad SAW sendiri. (Lebih lanjut tentang hal ini silakan klik di rubrik Syari’ah dan Iptek).
Penentuan hari arafah itu juga ditegaskan dalam Bahtsul Masa’il Diniyah Maudluiyyah pada Muktamar Nahdlatul Ulama XXX di Pondok Pesantren Lirboyo, akhir 1999. Ditegaskan bahwa yaumu arafah atau hari Arafah yaitu tanggal 9 Dzulhijjah berdasarkan kalender negara setempat yang berdasarkan pada rukyatul hilal.
Adapun tentang fadhilah atau keutamaan berpuasa hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah didasarkan pada hadits berikut ini:
صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً وَصَوْمُ عَاشُوْرَاَء يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً
Puasa hari Arafah menebus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang dan puasa Asyura (10 Muharram) menebus dosa setahun yang telah lewat. (HR Ahmad, Muslim dan Abu Daud dari Abi Qotadah)
Para ulama menambahkan adanya kesunnahan puasa Tarwiyah yang dilaksanakan pada hari Tarwiyah, yakni pada tanggal 8 Dzulhijjah. Ini didasarkan pada satu redaksi hadits lain, bahwa Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun. Dikatakan bahwa hadits ini dloif (tidak kuat riwayatnya) namun para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dloif sekalipun sebatas hadits itu diamalkan dalam kerangka fadla'ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), dan hadits yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum.
Selain itu, memang pada hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa untuk menjalankan ibadah seperti puasa. Abnu Abbas RA meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِيْ أَياَّمُ اْلعُشْرِ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهُ فَلَمْ يَرْجِعُ مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ
Diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, walaupun jihad di jalan Allah? Rasulullah bersabda: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya atau menjadi syahid. (HR Bukhari)
Puasa Arafah dan Tarwiyah sangat dianjurkan bagi yang tidak menjalankan ibadah haji di tanah suci. Adapun teknis pelaksanaannya mirip dengan puasa Ramadhan.
Bagi kaum Muslimin yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan juga disarankan untuk mengerjakannya pada hari Arafah ini, atau hari-hari lain yang disunnahkan untuk berpuasa. Maka ia akan mendapatkan dua pahala sekaligus, yakni pahala puasa wajib (qadha puasa Ramadhan) dan pahala puasa sunnah. Demikian ini seperti pernah dibahas dalam Muktamar NU X di Surakarta tahun 1935, dengan mengutip fatwa dari kitab Fatawa al-Kubra pada bab tentang puasa:
يُعْلَمُ أَنَّ اْلأَفْضَلَ لِمُرِيْدِ التََطَوُّعِ أَنْ يَنْوِيَ اْلوَاجِبَ إِنْ كَانَ عَلَيْهِ وَإِلَّا فَالتَّطَوُّعِ لِيَحْصُلَ لَهُ مَا عَلَيْهِ
Diketahui bahwa bagi orang yang ingin berniat puasa sunnah, lebih baik ia juga berniat melakukan puasa wajib jika memang ia mempunyai tanggungan puasa, tapi jika ia tidak mempunyai tanggungan (atau jika ia ragu-ragu apakah punya tanggungan atau tidak) ia cukup berniat puasa sunnah saja, maka ia akan memperoleh apa yang diniatkannya.

25 Des 2010

~ MENCOBA MEMAHAMI EKSISTENSI SEMESTA~

Ada sebuah film presentasi yang menunjukkan bahwa ternyata manusia hanyalah sebutir debu dalam eksistensi alam semesta. Sebuah kamera dipasang mengarah ke sosok manusia pada jarak 1 meter. Maka, sosok manusia itu pun kelihatan cukup besar di dalam monitor kamera. Closed up. Lantas, kamera itu dijauhkan perlahan ke arah angkasa, secara terus menerus.

Pada jarak 10 meter, sosok manusia itu tidak lagi mendominasi layar monitor. Selain si manusia, ternyata kelihatanlah pemandangan di sekitarnya. Ada batu, pohon, kursi, dan taman. Lantas, kamera itu dijauhkan lagi menjadi setinggi 100 meter. Sang manusia menjadi kelihatan semakin kecil, berada di dalam sebuah taman yang besar. Yang lebih dominan adalah pepohonan dan benda-benda besar di sekitarnya.

Pada jarak 1000 meter alias 1 km, sosok manusia itu mulai tidak jelas. Hanya terlihat sebagai bintik kecil yang bergerak-gerak. Dan tamannya pun mulai kelihatan kecil pula. Yang mulai kelihatan dominan adalah kawasan kota. Kemudian, kamera ditarik menjauh lagi ke angkasa. Pada jarak 10 km, kawasan itu pun menjadi semakin kecil. Yang tampak adalah sebuah kota dengan permukimannya. Sedangkan sang manusia, sudah tidak kelihatan lagi...!

Jika kamera itu terus dinaikkan ke angkasa, pada jarak 1000 km, kamera sudah berada di lapisan paling luar atmosfer Bumi. Yang kelihatan di layar monitornya adalah permukaan planet Bumi yang melengkung. Dan, seterusnya semakin jauh, yang kelihatan adalah planet Bumi beserta satelitnya, yakni Bulan.

Kemudian berturut-turut, semakin jauh kamera, akan kelihatan tata surya yang berisi delapan planet dengan lintasan orbitnya dan berbagai satelit, asteroid, dan bebatuan angkasa. Lantas, kelihatanlah matahari sebagai pusatnya. Dan bintang-bintang yang bertaburan berjumlah miliaran. Yang ketika semakin jauh, akan kelihatan sebagai bintik-bintik cahaya terang dalam kegelapan alam semesta. Berkelap-kelip di dalam jagad raya yang tak kelihatan batasnya.

Semakin menjauh, di jarak sekitar 1000.000.000.000.000.000 Km (10^18 km), kelihatanlah galaksi Bima Sakti. Yakni gerombolan matahari, dimana tatasurya dan Bumi kita berada. Dimana, sosok manusia yang kita amati tersebut telah ’terlupakan’ karena sudah tak ada bekasnya. Sudah lenyap dari pandangan mata. Teruskanlah, kamera semakin menjauh ke kedalaman langit, pada jarak 100.000.000.000.000.000.000 (10^20 Km) dan selebihnya, yang terlihat adalah samudera kegelapan alam semesta yang cuma berisi bintik-bintik cahaya disana-sini, yang kita kenal sebagai bintang atau pun gugusan bintang atau pun galaksi-galaksi yang berkedap-kedip lemah.

Ternyata kawasan gelap alam semesta demikian luasnya. Jauh lebih luas dibandingkan kawasan terangnya. Dengan kata lain, misteri kegelapan realitas ini jauh lebih dahsyat tak terukur dibandingkan dengan segala yang sudah diketahui oleh manusia. Ya, ternyata alam semesta lebih didominasi oleh ’kegelapan malam’ dibandingkan terangnya cahaya...

Sekarang, marilah kameranya kita gerakkan mendekat kembali ke Bumi. Maka, secara berurutan kita akan melihat benda-benda yang kita tinggalkan tadi mendekat kembali. Kelihatanlah miliaran galaksi dalam jarak yang semakin dekat. Kemudian muncul galaksi Bima Sakti. Disusul gerombolan tatasurya, planet-planet dan satelitnya. Dan akhirnya sampai di bagian luar planet Bumi.

Kamera terus mendekat pada jarak 1000 km, saat ia berada di bagian luar atmosfer. Terus mendekat sejarak 100 km, 10 km, 1 km, 10 meter, dan akhirnya 1 meter, dimana sosok manusia terlihat closed up kembali...

Tapi, jangan berhenti. Dekatkan terus kamera itu ke arah sosok manusia tersebut, sehingga berjarak 10 cm. Apakah yang terlihat? Jika resolusi lensanya sangat bagus, Anda akan bisa melihat permukaan kasar kulit manusia. Pori-porinya dan bulu-bulu rambut di permukaan kulitnya.

Dekatkan lagi, pada jarak 1 cm. Maka, pori-porinya akan semakin kelihatan jelas. Dan keriput-keriput kulit kita terlihat demikian gamblang. Dekatkan lagi sejarak 1 mm. Jika lensanya didesain beresolusi sangat tinggi, akan kelihatan jaringan sel-sel tubuh kita. Mendekatlah sampai sejarak 10^(-4) meter alias 1/10.000 meter alias 100 micron akan semakin jelas ’betapa jeleknya’ kulit kita yang kelihatan halus itu. Dan kemudian kita akan mulai bisa melihat sel-sel tubuh kita sendiri.

Pada jarak 1 micron alias 1/sejuta meter akan kelihatan isi selnya. Bahkan mulai kelihatan pilinan-pilinan chromosom dan untai genetika. Itu berlangsung sampai sejarak 10^(-8) alias 100 angstroms. Jika kita mendekat lagi sampai sejarak 10 angstroms, mulai kelihatan gerombolan molekul-molekul penyusun sel. Dan pada jarak yang lebih dekat lagi sampai 0,01 Angstrom kita akan bertemu dengan atom-atom yang memiliki ruang-ruang gelap antar-orbit elektronnya. Mirip saat berada di luar angkasa, di jarak antar-planet, bintang dan galaksi.

Lebih dekat dari itu, pada jarak 0,001 A, kita mulai bisa melihat isi atom yang terdiri dari partikel-partikel subatomik. Semakin mendekati, di jarak 0,0001 A, kita akan bertemu dengan penyusun inti atom seperti proton, neutron, dan berbagai partikel elementer lainnya. Jika diteruskan lagi lebih dekat dari 0,00001 A, maka yang tampak hanyalah kegelapan alam mikrokosmos. Persis seperti kegelapan alam makrokosmos di luar angkasa sana.

Jadi, akhir dari perjalanan Makrokosmos ke luar angkasa itu ternyata hanya akan mempertemukan kita dengan kegelapan tiada bertepi, seluas miliaran tahun cahaya. Sebaliknya, perjalanan ke mikrokosmos juga ternyata berakhir dengan kegelapan yang tidak ada batasnya, sampai mendekati ketiadaan di ukuran nol ruang alam mikro..!

Ke luar angkasa luas bertemu dengan Misteri yang sangat mencengangkan, ke dalam alam mikro juga bertemu dengan Misteri yang menggiriskan. Kesana bertemu ’Kegelapan’ dan ketidak-tahuan, kesini bertemu ’Kegelapan’ dan ketidak-mengertian. Menjauh bertemu dengan ’Kekosongan’, dan mendekat juga bertemu dengan ’Kekosongan’.

Dan di sepanjang perjalanan dari ’Kekosongan’ menuju ’Kekosongan’ itu kita menemukan ’Isi’ alam semesta yang teratur demikian rapi, dalam keseimbangan dan harmoni yang tiada terkira indahnya. Oh, siapakah Dia yang sedang ’bermain-main’ mengisi segala kekosongan realitas alam semesta ini? Dimana Dia sedang menunjukkan kedahsyatan Kekuasaan yang tiada terkira. Dialah Sang Maha Berilmu lagi Maha Bijaksana: Allah Azza wajalla...

QS. Al Mulk (67): 3-4

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak harmonis?

Kemudian cermatilah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat, bahkan penglihatanmu akan kembali dalam keadaan yang meletihkan.

QS.Adz Dzaariyat (51): 20-21

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (eksistensi Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

QS. Al Infithaar (82): 6-7

Hai manusia, apakah yang telah membuatmu ingkar terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu demikian harmonis?

Wallahu a'lam bishshawab

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. ( QS. Al-A’rof : 96 )

Official Site Blog Mr. Andik Subiyanto

Salam kenal dari saya, Andik Subiyanto
Jombang - Jawa Timur - Indonesia
Yuk kita berbagi Ilmu, pengetahuan, wawasan dan jalin tali silaturohim.
Semoga anda menjadi insan yang berkualitas dan bermanfaat.
Perubahan itu harus ke arah yang lebih baik
1
. Mulailah dari diri sendiri
2. Mulailah dari hal-hal yang kecil
3. Mulailah saat ini juga



Foto Bareng Menkominfo

Foto Bareng Menkominfo