16 Jan 2009

1133 Gugur dan 5000 lebihTerluka, Genosida di Gaza Berlanjut

Wajah Anak-anak Gaza, Korban Kebiadaban Israel.
Memasuki hari ke-21 genosida di Jalur Gaza, jumlah korban meninggal meningkat menjadi 1133 syuhada, 368 di antaraya adalah anak-anak 105 wanita, 100 orang lanjut usia, 15 anggota tim medis, 4 wartawan, 3 aktivis asing. Sementara itu jumlah korban luka mencapai lebih 5130 separohnya adalah anak-anak kaum wanita.
Pasukan penjajah Zionis Israel melanjutkan agresinya di seluruh wilayah Jalur Gaza, Jum’at (16/01). Apa yang dilakukan Israel adalah aksi-aksi pembersihan etnis dengan mefokuskan serangan kepada warga sipil dan fasilitas-fasilitas kesehatan.

Sumber-sumber medis Palestina menegaskan seorang bocah Palestina Isa Ermilat (14) gugur dan 6 bocah lainnya terluka akibat serangan udara Zionis Israel yang menghantam dekat pasar al najmah di kamp pengungsi Shabura di kota Rafah, wilayah selatan Jalur Gaza. Sementara itu 8 orang lainnya terluka dalam aksi militer di daerah Shufa.

Pasukan militer Israel menggempur sekitara masjid al Amin dan masjid Khalid bin Walid di sisi barat dank amp pengungsi Khan Yunis. Aksi militer Israel ini mengakibatkan seorang warga Nadir Abu Rizq dan anaknya yang berusia 4 tahun terluka.

Sementara pesawat tempur Israel menggempur kantor polisi utama di Khan Yunis dan membuatnya hancur total di sampung menghancurkan kantor pertolongan pertama di Khan Yunis.

12 Jan 2009

Iran Seru Dunia Muslim Akhiri Genosida di Jalur Gaza

Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad, Ahad, meminta negara-negara Muslim bersatu untuk mengakhiri pemusnahan suku bangsa di Jalur Gaza oleh Israel, demikian kantor berita Aljazair APS melaporkan.
Setelah pembicaraan dengan sesama pemimpin negara dari Aljazair Abdelaziz Bouteflika, Ahmadinejad mengatakan bahwa jika "langkah mendesak dan global tidak segera diambil oleh negara-negara merdeka dan bebas" untuk mengakhiri pemboman mematikan Israel di Jalur Gaza, kawasan itu, dunia Muslim, dan kemanusiaan secara keseluruhan akan menghadapi bencana kemanusiaan dalam skala bersejarah.
Ketika menyerukan sanksi politik dan ekonomi terkoordinasi terhadap Israel, Ahmadinejad mengatakan Iran akan memberikan "setiap dukungan" untuk melawan serangan Israel dan mencegah pemusnahan baru suku bangsa dalam serangan terhadap rakyat Palestina.
Ahmadinejad, memperingatkan bahwa dunia Muslim dan para pemimpinnya memiliki tanggung-jawab sejarah untuk bertindak. Ia mengatakan masyarakat dan pemerintah Islam "mampu menyuntikkan dinamika ke dalam intifada Palestina".Ia menggunakan istilah bahasa Arab untuk aksi perlawanan, merujuk kepada dua aksi perlawanan Palestina terhadap pendudukan Israel yang dilancarkan pada 1987 dan 2000.
Israel telah mulai mengalirkan tentara cadangan ke Jalur Gaza, Ahad, ketika bentrokan hebat berkobar meskipun ada permintaan gencatan senjata oleh Dewan Keamanan PBB.Hampir 900 warga Palestina telah tewas sejak Israel melancarkan serangan besar-besarannya pada 27 Desember dalam menghadapi serangan roket dan mortir oleh gerilyawan Jalur Gaza.

11 Jan 2009

Hari ke 14, Israel semakin membabi buta

Israel terus melakukan serangan brutalnya dari darat dan udara. Pasukan-pasukan Zionis itu makin menunjukkan kebiadabannya karena dengan sengaja menembaki warga sipil bahkan wartawan yang sedang melakukan tugasnya di Jalur Gaza. Israel sudah mengisyaratkan untuk melanjutkan perang setelah rezim zionis itu menolak resolusi yang dikeluarkan Dewan Keamanan PBB hari Jumat kemarin.
Sampai hari ke-14, jumlah warga Palestina yang gugur syahid mencapai 800 orang dan yang luka-luka mencapai 3.125 orang. Dan sampai detik ini, pihak Mesir sebagai negara terdekat dengan wilayah Gaza masih tidak mau membuka perbatasan Rafah agar bantuan bisa masuk dan warga Gaza terutama anak-anak dan perempuan bisa keluar dari zona perang di Gaza. Presiden Mesir Husni Mubarak masih menunjukkan sikapnya yang telah mempermalukan umat Islam sedunia, karena menolak membuka perbatasan untuk membantu saudara-saudara Muslimnya di Jalur Gaza.

Biarkan kami masuk

Mohammed al-Khaledy, seorang dokter bedah saraf dari Yordania terpaksa harus bersitegang dengan penjaga perbatasan Mesir karena tidak diperkenankan masuk ke Gaza.
Ia datang jauh-jauh ke Palestina untuk membantu warga Gaza yang luka-luka, tapi aparat Mesir menghentikan langkahnya di perbatasan padahal ia sudah menunggu selama tiga hari di perbatasan Mesir untuk diijinkan masuk ke Gaza.

"Biarkan saya masuk, saya seorang dokter. Saya akan masuk Gaza atas tanggung jawab saya sendiri," kata dokter Khaledy meminta kebijaksanaan penjaga perbatasan.Tapi ia tetap tidak dibolehkan masuk ke Gaza.

Selain Khaledy, ada ratusan dokter dari berbagai negara antara lain dari Malaysia, Indonesia, Turki dan Yunani yang juga sudah berhari-hari tertahan di perbatasan Mesir. Mereka tetap menunggu ijin masuk ke Gaza dari pemerintahan Husni Mubarak.
Sikap Mesir membuat mereka geram dan gemas, karena mereka sebenarnya sudah tinggal beberapa kilometer lagi dari ribuan warga Gaza yang luka-luka dan sangat membutuhkan bantuan para dokter itu. "Dokter tidak bisa diam saja melihat kekejian Israel.Biar bagaimanapun kami harus bisa masuk Gaza," tukas Khaledy.

Tragedi Zaetun

Kekejian pasukan Zionis sudah tidak terbantahkan lagi. PBB menerima laporan pembantaian yang dengan sengaja dilakukan pasukan Zionis Israel di desa Zeitun yang menyebabkan 30 warga sipil kehilangan nyawa.

Laporan PBB mengutip pengakuan dari korban yang selamat menyebutkan, pada tanggal 4 Januari pasukan Zionis mengumpulkan sekitar 110 warga Gaza ke dalam sebuah rumah di desa Zeitun dan menyuruh mereka untuk diam di dalam rumah. Tapi sehari kemudian, tepatnya hari Senin kemarin,pasukan Zionis menembaki rumah itu berulangkali sehingga 30 orang di rumah tersebut gugur syahid.

Seorang petugas PBB menyebut tragedi pembantaian ini sebagai tragedi paling mengerikan sejak militer Zionis melancarkan serangannya ke Jalur Gaza dua pekan yang lalu. "Mereka yang selamat, berjalan sepanjang dua kilometer ke jalan Salahudin sebelum akhirnya dievakuasi ke rumah sakit. Tiga anak-anak, salah satunya bayi berusia lima bulan meninggal ketika tiba di rumah sakit," kata pejabat PBB itu.

Meysa Fawzi al-Samouni, perempuan Palestina berusia 19 tahun yang selamat dari tragedi pada organisasi HAM Israel B'Tselem membenarkan bahwa tentara-tentara Zionis menempatkan sejumlah warga Gaza ke dalam sebuah bangunan sebelum mereka semua ditembaki.

Ia mengatakan, warga yang gugur maupun luka-luka masih berada di lokasi di bangunan itu, di bawah reruntuhannya akibat tembakan misil-misil Israel.

Korban selamat lainnya, Ibrahim Samouni, 13, mengalami luka di bagian dada dan kakinya. Ibrahim mengungkapkan, ia mencoba menyelamatkan tiga adik-adiknya dan berusaha menolong satu orang dewasa yang luka-luka dan tergeletak diantara jenazah. Sementara ibu Ibrahim sendiri syahid dalam insiden tersebut.

9 Jan 2009

Korban Terus Berjatuhan

Korban serangan serdadu Israel yang dilancarkan lewat darat, udara dan laut terus bertambah. Menginjak pekan kedua gempuran ke Gaza sudah lebih dari 780 korban meninggal dan 3250 lainya luka-luka.

Menurut Direktur Layanan Ambulan dan Emergency Departemen Kesehatan Palestina, Dr. Muawiyah Husnain menyebutkan, jumlah syuhada terus meningkat yang kebanyakanya adalah anak-anak dan wanita. Pada Kamis (8/1) lebih dari 50 jenazah syuhada meninggal akibat kebidaban Israel. Sementara mobil-mobil ambulans tidak bisa mencapai lokasi korban, karena dihalang-halangi serdadu Israel.

Husnain menambahkan, pihaknya masih mencari jenazah korban yang tertimbun reruntuhan bangunan akibat gempuran roket Israel. Para petugas medis tidak bisa mencapai lokasi karena mendapat ancaman dari serdadu Zionis yang akan menggempur mereka lagi jika masuk lokasi serangan.

Serdadu Israel, kemarin Selasa memusatkan seranganya ke rumah-rumah warga dan sekolah milik PBB. Akibatnya ratusan anak sekolah yang berlindung di sana tewas seketika. Sebanyak 135 anak bergelimpangan di antara puing dan reruntuhan bangunan.

Mereka juga menggempur masjid-masjid yang berada di Gaza. Sebanyak 15 masjid luluh lantak terkena rudal Israel. Mereka semakin beringas menyusul kegagalanya dalam manghadapi serangan perlawanan yang berimbas pada tewasnya puluhan serdadu dan ratusan lainya luka. Mereka melampiaskan dandamnya kepada rakyat sipil Palestina.

Pemandangan Mengerikan
Organisasi Palang Merah Internasional, Kamis (08/01), mengumumkan 4 mobil ambulan milik palang merah dan bulan sabit merah Palestina sampai di sejumlah rumah di kampong Zaitu, kota Gaza, yang hancur akibat bombardemen Israel. Pihaknya menemukan banyak jasad korban yang meninggal sementara anak-anak duduk di sisi jasad ibu-ibu mereka.

Dalam pernyataan yang salinannya diterima koresponen Infopalestina, Palang Merah Internasional menegaskan pihaknya telah meminta jaminan lalu-lintas yang aman agar mobil-mobil ambulan bisa sampai ke kampong ini sejak 3 Januari lalu. Namun sama sekali tidak mendapatkan izin dari militer Israel kecuali, Rabu (07/01) siang.

Menurutnya, “Tim gabungan antara Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah Palestina menemukan di sebuah rumah 4 orang bocah yang sedang duduk di sisi jasad ibu mereka. Dengan gemetar mereka menyampaikan tidak mampu lagi berdiri.” Sementara itu anggota tim gabungan menemukan seorang laki-laki yang masing hidup bersama 12 jasad korban lainnya yang sudah meninggal.

Di rumah yang berbeda tim menemukan 15 orang lain yang selamat dari serangan Israel, di antara mereka ada beberapa yang terluka. Di rumah yang lain juga ditemuka 3 jasad korban yang sudah meninggal.

Kepala Delegasi Palang Merah Internasional di Palestina, Bayer Fitash mengatakan “ini adalah peristiwa yang mengerikan. Dipastikan pasukan militer Israel mengetahui kondisi ini namun tidak mau memberikan bantuan kepada korban yang terluka. Mereka juga tidak mengizinkan kami dan Bulan Sabit Merah membantu mereka.”

Fitash menambahkan, “Tembok tinggi dari tanah yang didirikan militer Israel menghalangi mobil-mobil ambulan untuk sampai ke kampung tersebut. Untuk itu, kami terpaksa membawa anak-anak dan korban luka ke mobil ambulan dengan menggunakan gerobak yang ditarik keledai.”

Dia melanjutkan, “Tim gabungan dari Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah Palestina berhasil mengecakuasi 18 korban luka dan 12 lainnya yang kondisinya sangat lusuh dan kotor. Tim gabungan juga berhasil mengevakuasi dua jasad korban yang meninggal. Hari ini (Kamis, red) Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah akan mengumpulkan jasad yang masih tertinggal.”

Fitash mengisyaratkan, Palang Merah Internasional tahu bahwa di sana ada korban luka lain yang bersembunyi di rumah-rumah yang hancur di kampung Zaitun. Pihaknya meminta militer Israel memberikan jaminan keamanan kepada timnya dan mobil ambulan Bulan Sabit Merah Palestina untuk lewat dengan aman agar bisa masuk ke kampung tersebut untuk mencari korban luka yang lain.

Sampai saat ini Palang Merah Internasional belum mendapatkan kepastian apapun dari otoritas Israel untuk memberikan kemudahan dalam hal ini. Pihaknya menilai militer Israel telah mengingkari janji kewajibannya sebagaimana ditegaskan dalam hukum kemanusiaan internasional yang mengharuskan Israel memberikan perlindungan kepada korban luka dan mengevakuasi mereka. Penundaan pemberian izin kepada tim penolong untuk masuk ke kampung tersebut adalah hal yang tidak bisa diterima.

3 Jan 2009

Cuma Doa, Senjata Kami yang Tersisa

"Musik tahun baru kami adalah deru suara pesawat tempur Israel, kembang api tahun baru kami adalah percikan-percikan sinar dari misil-misil Israel," kata Raed Samir, seorang pemuda Gaza dengan nada sendu.
Itulah gambaran tahun baru di Jalur Gaza, di saat penduduk dunia bersuka ria merayakan tahun baru dengan hura-hura dan pesta kembang api. Dimana-mana disampaikan pesan tahun baru yang penuh harapan, tapi tidak bagi warga Gaza yang memulai tahun baru dengan penderitaan yang mungkin akan berlangsung lama akibat kebiadaban kaum Zionis Yahudi Israel.

"Lihatlah ke luar, pesawat-pesawat tempur F-16 tersenyum padamu, misil-misil menari untukmu, zanana (suara gemuruh) bernyanyi untukmu," itulah bunyi sms yang diterima Fathi Tobal, juga warga Gaza dari seorang temannya.

Tobal dengan sinis berkata,"Sementara orang lain di seluruh dunia berpesta, kelihatannya pasukan udara Israel sedang berusaha memberikan kami kembang api."

Apa yang dirasakan rakyat Palestina sekarang? Banyak diantara mereka yang merasa diabaikan dan dikhianati oleh masyarakat internasional. "Dunia seharusnya membuka mata, daripada menari-nari dan minum-minum, mereka seharusnya menghentikan sebuah holocaust yang sedang dialami rakyat Gaza. Dunia internasional seharusnya sudah menghentikan dan melindungi hak-hak kami dibawah penjajahan Israel," kata Asad Abu Sharekh, seorang profesor dan pengamat politik.

Warga Gaza bernama Marwan, 40, mengatakan, di apartemennya yang cuma dua kamar kini ada 25 anggota keluarganya yang mengungsi untuk menghindar dari serangan udara Israel. "Orang tua, saudara perempuan, saudara lelaki saya terpaksa mengungsi karena khawatir dengan bombardir Israel di tempat tinggal mereka," ujarnya.

Banyak keluarga di Gaza kini mengungsi ke rumah kerabat atau ke gedung-gedung sekolah. Meski di tempat itu juga mereka tidak aman karena Israel tidak pandang bulu menjatuhkan bom-bomnya. Masjid-masjid pun menjadi target serangan pasukan Zionis biadab itu.
"Seperti yang kalian lihat, pesawat-pesawat Israel menebarkan ketakutan dimana-mana. Saya berharap anak-anak muda di tempat lain, melakukan sesuatu sebagai bentuk solidaritasnya pada kami, anak-anak muda di Palestina.

Pada tahun baru, rakyat Palestina biasanya mengucapkan "Kul am wa antum bi khoir" (Semoga Anda selalu sehat dan selamat). Tapi tahun ini, warga Palestina di Gaza saling mengucapkan "Kul qasif wa antum bi khoir" (semoga Anda selamat setelah pengeboman). Sungguh Ironis.

Sebagian warga Gaza yang bertahan di rumah-rumah mereka tidak berani keluar. Anak-anak tak lagi pergi sekolah, para lelaki tidak bisa bekerja bahkan salat pun kini di rumah saja, karena masjid-masjid banyak yang hancur. Para orang tua langsung meraih anak-anaknya, jika melihat mereka mendekat ke jendela atau membuka pintu untuk sekedar mengintip situasi di luar.

Abu Anas Al-Banna beserta isteri dan 10 anaknya kini cuma bisa berdiam diri di rumah kecil mereka di Gaza City. Selama enam hari ini mereka merasakan getaran dan suara dentuman yang memekakkan telinga akibat ledakan misil-misil Israel.

"Kematian mengintai kami semua. Saya sendiri panik dan rasanya ingin berteriak, tapi tak bisa. Saya harus kuat demi anak-anak saya," kata seorang ibu sambil memeluk erat Sami, puteranya yang baru berusia tiga tahun dan tidak berhenti menangis.

"Tidak ada jeritan ataupun air mata yang bisa menyelematkan kami. Berdoa. Doalah satu-satunya senjata kami yang tersisa," kata Abu al-Banna.

Saat malam menjelang merupakan saat-saat yang menakutkan bagi keluarga al-Banna. Lina, 14, salah satu anak perempuan al-Banna, dari sudut tempat tidurnya cuma bisa berbisik bahwa ia sangat ketakutan saat malam tiba. Saudara lelakinya, Anas, juga masih ketakutan setelah beberap jam bombardir yang dilakukan Israel ke pemukiman mereka. Tubuhnya gemetar. "Saya tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Saya kehilangan semua rasa indera saya," kata Anas.

Sejak serangan Israel hari Sabtu kemarin, keluarga al-Banna memutuskan untuk tinggal dalam satu ruangan. Mereka memilih kamar yang tidak ada jendela di sudut yang paling jauh dari lantai dasar, tempat yang paling minimal dari resiko terkena bombardir Israel. Abu al-Banna juga menyiapkan peralatan pertolongan pertama. Meski demikian, mereka tetap tidak bisa memejamkan mata saat malam turun di Gaza.

Anak-anak menutup muka atau menutup telinga mereka jika menderngar deru pesawat tempur Israel. "Setiap menit, rasanya kami harus siap mengucapkan perpisahan satu sama lain. Kami tidak pernah tahu apakah kami akan selamat esok hari," kata mereka pasrah.
Mari Hentakkan jiwa kita untuk berjihad melawan kekejaman zionis/yahudi israel yang telah membabi buta menyerang saudara seiman kita di negara Palestina. Minimal Doakan saudara kita di Palestina setiap habis sholat. Allahu Akbar .....................
Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. ( QS. Al-A’rof : 96 )

Official Site Blog Mr. Andik Subiyanto

Salam kenal dari saya, Andik Subiyanto
Jombang - Jawa Timur - Indonesia
Yuk kita berbagi Ilmu, pengetahuan, wawasan dan jalin tali silaturohim.
Semoga anda menjadi insan yang berkualitas dan bermanfaat.
Perubahan itu harus ke arah yang lebih baik
1
. Mulailah dari diri sendiri
2. Mulailah dari hal-hal yang kecil
3. Mulailah saat ini juga



Foto Bareng Menkominfo

Foto Bareng Menkominfo